Bila terdapat anak yang belum diaqiqiahi sampai sang anak telah besar, apakah orang tua pula senantiasa wajib meng- aqiqahinya?
Jawab:
Bismillah was shalatu was salamu‘ ala Rasulillah, wa ba’ du,
Menimpa hukum meng- aqiqahi diri sendiri sehabis berusia, telah sempat kita bahas di postingan:
Ulasan kita kali ini merupakan hukum untuk orang tua yang belum pernah membagikan aqiqah untuk anaknya kala balita, sampai anaknya telah tiba umur baligh. Apakah anak ini masih butuh aqiqahi bapaknya? Khasiat Aqiqah Untuk Anak serta Orang Tua
Para ulama menyarankan supaya aqiqah disembelih pada hari ketujuh pasca kelahiran. Dalil tentang permasalahan ini merupakan hadis dari Samurah radhiyallahu‘ anhu, kalau Nabi shallallahu‘ alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّغُلاَمٍرَهِينَةٌبِعَقِيقَتِهِتُذْبَحُعَنْهُيَوْمَسَابِعِهِوَيُحْلَقُوَيُسَمَّى
Tiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, yang wajib disembelih di hari ketujuh, dicukur serta diberi nama.( HR. Ahmad 20083, Abu Daud 2840, serta dishahihkan Syuaib al- Arnauth).
Serta bila tidak membolehkan di hari ketujuh, hingga aqiqah dicoba pada hari ke- 14. Bila tidak membolehkan, aqiqah dicoba di hari ke- 21. Serta ini ialah komentar yang masyhur dalam madzhab Hambali serta salah satu komentar dalam Malikiyah.( al- Mausu’ ah al- Fiqhiyah, 30/ 278)
Gimana bila lebih dari 21 hari?
Bagi syafi’ iyah, aqiqah masih jadi tanggung jawab itu sampai sang anak tiba umur baligh.
Dalam ensiklopedi fiqh dinyatakan Aqiqah serta Tata Triknya dalam Islam ,
وقالالمالكية:إنوقتالعقيقةيفوتبفواتاليومالسابع.وقالالشافعية:إنوقتالإجزاءفيحقالأبونحوهينتهيببلوغالمولود
Bagi Malikiyah, waktu peluang aqiqah jadi lenyap bila telah lalu hari ketujuh kelahiran. Bagi Syafiiyah, kalau waktu bolehnya ayah ataupun siapapun mengaqiqahi anak, berakhir hingga baligh.( al- Mausu’ ah al- Fiqhiyah, 30/ 279)
Bila anak telah baligh serta belum diaqiqahi hingga tanggung jawab orang tua sudah berakhir serta berikutnya anak dapat meng- aqiqahi dirinya sendiri. Dalam Fatwa Syabakah Islamiyah dinyatakan,
وقالالشافعي:إنأخرتإلىالبلوغ،سقطتعمنكانيريدأنيعقعنه،لكنإنأرادهوأنيعقعننفسه،فعل
Imam as- Syafii berkata, bila aqiqah tertunda hingga anak itu baligh, hingga sudah gugur tanggung jawab orang yang meng- aqiqahinya. Hendak namun bila ia mau mengaqiqahi diri sendiri, oleh dicoba.( Fatwa Syabakah Islamiyah, nomor. 16868)
Kesimpulan dalam madzhab Syafiiyah dapat kita peruntukan acuan, kalau tanggung jawab orang tua buat berikan aqiqah anak, berakhir kala si anak telah baligh.
Demikian, Allahu a’ lam.
No comments:
Post a Comment